Padek, Jangan identikkan Pasaman Barat (Pasbar) hanya dengan kelapa sawit, tapi mari melihat tanaman baru yang menjadi ikon baru Pasbar, yakni jagung. Sebenarnya tanaman jagung sudah dikenal masyarakat jauh sebelum ditetapkannya Pasbar sebagai sentra jagung di Sumbar pada tahun 2008. Apalagi, dengan banyaknya perusahaan-perusahaan yang ingin berinvestasi di Pasbar.
Tanaman jagung perlahan-lahan mulai menunjukkan perkembangan di tengah-tengah masyarakat. Saat ini saja 70 persen produksi jagung Sumbar berasal dari Pasbar. Produksi masih perlu ditingkatkan petani dan pemerintah mengingat meningkatnya permintaan. Fluktuasi harga yang juga cenderung naik, menjadikan jagung tanaman favorit baru masyarakat selain kelapa sawit. Panennya relatif cepat, dua kali setahun.
Seperti yang dirasakan salah seorang petani Sariak Kecamatan Luhak Nanduo Algeri Adnan (42). Bagi lelaki ini bertanam jagung sangat menguntungkan. Ini dialakoni sejak 1998 di atas lahan sendiri seluas 1 hektar. “Pada awalnya, lahan saya hanya dijadikan sawah, namun karena debit air semakin berkurang, saya beralih ke tanaman jagung. Dengan menanam jagung secara monoculture, saya memberanikan diri meskipun saat itu harga jagung paling tinggi hanya Rp800/Kg,” kata Algeri yang saat ini menjadi Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKMA) KSU Sukma Karsa Sariak Kecamatan Luhak Nanduo Pasbar.
Pada tahap awal bertanam jagung, produksi yang diperoleh sifatnya hanya pas-pasan karena sistem pengolahan dan pemasaran yang tidak jelas. Kisaran harga di tingkat petani hanya antara Rp800 sampai Rp1500/Kg. Namun perkembangan harga yang semakin baik dan ditunjang dengan pembinaan Pemkab Pasbar para petani jagung semakin percaya bahwa jagung merupakan tanaman masa depan yang sangat menjanjikan.
Prospek jagung yang semakin baik dan perkembangan harga yang relatif cepat membuat petani semakin bersemangat untuk bertani jagung. Apalagi dengan dibentuknya kelompok-kelompok tani dan gabungan kelompok tani (gapoktan) yang semakin memperkuat dinamika kelompok dengan azas kekeluargaan. Kualitas produksi merupakan salah satu faktor yang menentukan harga jagung. (ALTAS MAULANA)