Pasbar, Padek-- Pasbar terancam kekurangan pangan. Ini diakibatkan luas area sawah di Pasbar, kian sempit. Luas area sawah di Pasbar kini tinggal 18 ribu ha dari total luas lahan yang semula mencapai 38 ribu ha. ”Swasembada pangan beras di Pasbar saat ini sudah berada pada taraf mengkhawatirkan. Saat ini, Pasbar sudah mulai mengimpor beras dari luar daerah.
Seharusnya, Pemkab Pasbar melalui Dinas Pertanian dapat membuat program yang seimbang antara tanaman pangan padi dengan tanaman perkebunan lainnya. Jangan fokus kepada produk perkebunan yang tinggi, sedangkan tanaman padi ditinggalkan,” terang anggota DPRD Pasbar Syamsir Alam.
Dijelaskannya, Pasbar yang memiliki luas wilayah 3.887, 77 Km sebagian besarnya telah tertanam oleh tanaman perkebunan. Luas perkebunan kelapa sawit di Pasbar kini telah mencapai 442,80 ha, karet seluas 7.643 ha dan tanaman lainnya seperti coklat dan jagung banyak menyerap lahan. Perkebunan yang begitu luas ini, umumnya dikuasai oleh sejumlah perusahaan swasta dan tanaman pribadi masyarakat.
Melihat kondisi itu, kata Syamsir, Dinas Pertanian harus mengambil sikap agar ke depannya Pasbar tidak kekurangan pangan. Selain membuat program keseimbangan, pemkab juga harus membuat lokasi-lokasi atau sentra–sentra produk unggulan di tiap-tiap daerah.
”Selain mengarahkan kepada sentra-sentra tanaman pangan yang beragam, juga melakukan pembinaan secara terpadu kepada petani tanpa merugikan petani atau perusahaan perkebunan. Jangan hanya memberikan bantuan modal tapi bantuan yang diberikan adalah bantuan kerja (skill) kepada petani,” ujar Syamsir. Program revitalisasi petanian terutama cetak sawah baru sangat perlu dilakukan, sebab tanpa adanya keseimbangan maka Pasbar lambat laun akan terancam kekurangan pangan.
Khusus mengenai cetak sawah harus dilakukan secara serius serta memperhatikan kondisi irigasi yang ada. Tidak itu saja, kata Syamsir masyarakat juga diimbau tidak mudah terpengaruh dengan harga yang tinggi, tapi mari bersama-sama memperhatikan keseimbangan tanaman.
Dalam upaya menghidupkan sektor ekonomi kerakyatan terutama tanaman pangan diperlukan penanganan serius dan melibatkan usaha-usaha kecil menengah. Pembinaan difokuskan pada peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM). Melalui dinas terkait mulai dari dinas pertanian, peternakan, perikanan dan koperindag seharusnya dapat bersinergi dalam upaya meningkatkan ekonomi masyarakat.
Dinas Pertanian dalam hal ini tidak saja menyalurkan bibit tapi juga berkoordinasi dengan Koperindag untuk pembenahan SDM melalui koperasi yang dibentuk. “Selain membenahi kualitas SDM, pemkab juga harus membuka akses jalan ke daerah-daerah tertinggal, sehingga masyarakat mempunyai akses jalan untuk memasarkan produk pertaniannya ke luar daerah,” kata Syamsir.
Secara terpisah, Kepala Dinas Pertanian Pasbar Alfitri Noven yang ditemui Padang Ekspres di sela-sela panen perdana jagung di Kapa, Pasbar juga mengingatkan kepada masyarakat agar tidak tergiur dengan harga produk perkebunan yang tinggi. Tapi harus mampu menjaga keseimbangan tanaman perkebunan dengan padi sawah.
“Kami mengimbau kepada para petani agar memperhatikan keseimbangan tanaman. Sebab, jikapun uang ada sedangkan beras tidak ada, maka mau tidak mau akan menyebabkan timbulnya kesenjangan dan Pasbar akan kekurangan pangan,” kata Alfitri. (altas maulana)