10 Juli 2008

Sumbar Tetap Ekspor Kayu, Hingga Februari 2008 Volume Capai 20,7 Ton

Padang, Padek-- Ekspor kayu melalui Pelabuhan Teluk Bayur Kota Padang ke sejumlah negara Asia Tengara, ternyata hingga saat ini masih terus berlangsung. Padahal, pasokan kayu untuk kebutuhan pembangunan maupun industri kecil di dalam negeri saat ini masih langka. “Hingga Februari 2008, volume ekspor kayu olahan mencapai 20,7 ton
dengan nilai USD12,2 ribu,” ujar Kasubdin Perdangan Luar Negeri Disperindag Sumbar Yeni Watri kepada Padang Ekspres di ruang kerjanya, Rabu (9/7). Pada tahun 2007, kata Yeni Watri, kayu olahan Sumbar yang diekspor nilainya mencapai USD1,32 juta dengan volume 102 ribu ton. Ekspor tersebut dalam bentuk olahan berupa kunsen dan rangka bangunan lainnya. “Jumlah tersebut menurun dibanding tahun sebelumnya,” jelasnya.

Menurut Yeni, masih diekspornya kayu itu dari Sumbar, karena harga kayu di pasaran dunia masih tinggi dibanding di dalam negeri. Tingginya harga kayu tersebut, menurutnya mengakibatkan sejumlah industri pengolahan kayu seperti meubel dengan skala kecil di dalam negeri menjadi turun produksinya.

Sementara itu, data Dinas Kehutanan Sumbar menunjukkan, saat ini ternyata memang masih terdapat tiga Hak Penguasaan Hutan (HPH) di Sumbar yang sebelumnya tersedia 30 persen produksinya untuk tidak diekspor. Tiga perusahaan tersebut adalah PT Andalas Merapi Timber dengan penguasaan lahan seluas 28.880 hektar di kabupaten Solok Selatan.

Dua pemegang HPH lainnya di Kabupaten Kepulauan Mentawai adalah PT Minas Pagai Lumber dengan luas pengusaan lahan 83.330 hektar dan PT Salaki Summa Sejahtera seluas 47.000 hektar. Bulan lalu, ketiga perusahaan sepakat untuk memanfaatkan 30 persen hasil produksinya untuk memenuhi kebutuhan lokal.

Masuk Pelabuhan Subuh Hari

Sementara itu, dari pantauan Padang Ekspres di Pelabuhan Teluk Bayur kemarin, masih terlihat tumpukan ratusan batang kayu gelondongan. Seorang petugas keamanan di Teluk Bayur yang tidak mau disebutkan namanya, kepada Padang Ekspres mengatakan ekspor kayu di Teluk Bayur sudah lama vakum. “Namun, beberapa waktu belakangan kembali ada ekspor kayu ke luar negeri. Namun saya tidak tahu asal kayu itu dari mana,” jelasnya.

Pendapat serupa diungkapkan seorang pekerja bongkar-muat di Teluk Bayur yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan, kayu gelondongan itu diangkut dengan mobil fuso dari arah Solok. “Mobil yang mengangkut kayu itu masuk ke pelabuhan ini sekitar pukul 04.00 WIB hingga 05.00 WIB,” ungkapnya di Pelabuhan Teluk Bayur, kemarin.

Kayu Gelondongan : Pasokan kayu untuk industri kecil di Sumbar, saat ini masih langka. Sementara Sumbar tetap ekspor kayu melalui Pelabuhan Teluk Bayur ke sejumlah negara Asia Tenggara. Tampak tumpukan ratusan batang kayu gelondongan di Pelabuhan Teluk Bayur, kemarin.

Manager Pelayanan PT Pelindo II Cabang Teluk Bayur Dalsap saat dihubungi Padang Ekspres mengatakan ekspor kayu di Teluk Bayur sudah lama lesu. ”Terakhir ekspor kayu dari Sumbar berhasil digagalkan Polairud Polda Sumbar,” jelasnya. Ditambahkan Dalsap, kendati pun pengiriman kayu berukuran besar masih berlangsung di Teluk Bayur saat ini, tetapi itu hanya untuk memenuhi pasar lokal. “Pengirimannya hanya lintas provinsi,” bebernya. (dy/mg7)