JAKARTA - SURYA-POPULARITAS Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wapres Jusuf Kalla (SBY-JK) rontok hanya dalam tempo sebulan sejak mengerek harga Bahan Bakar Minyak (BBM), 24 Juni lalu. Hasil survei Indo Barometer menunjukkan, tingkat kepuasan publik terhadap SBY-JK berada di bawah 50 persen atau di titik terendah sepanjang semua survei sebelumnya. "Hasil survei kami maupun lembaga lain, tidak pernah dukungan terhadap SBY-JK berada di bawah 50 persen seperti sekarang," ujar Mohammad Qodari, Direktur Eksekutif Indo Barometer di Hotel Century, Jakarta, Minggu (29/6).
Menurut dia, surveinya digelar di 33 provinsi dengan jumlah responden 1200 orang, selama 5-16 Juni. Ia memaparkan, publik sulit menerima kenaikan harga BBM karena cara menjelaskannya tidak mudah dipahami.
"Pemerintah menyebut agar subsidi BBM tidak hanya dinikmati orang kaya. Itu akan lebih baik disebut untuk lebih membantu rakyat miskin," saran Qodari. Ia mengingatkan, ketika SBY-JK menaikkan harga BBM pada Maret dan Oktober 2005 lalu, popularitasnya memang turun tapi hanya empat persen.
Qodari mengungkapkan, mayoritas responden yang tidak puas pada SBY-JK cenderung memilih Megawati saat disodori daftar nama calon presiden. Megawati dipilih 38,2 persen responden, Sri Sultan Hamengku Buwono X menyusul dengan perolehan 10,2 persen.
"Responden yang menginginkan SBY jadi presiden lagi menurun drastis, dari 49,5 persen di bulan Desember 2007 menjadi 31,3 persen di bulan Juni 2008," lanjut mantan peneliti LSI ini.
Sementara, Faisal Basri, bekas politisi PAN yang tak direstui Megawati sebagai cagub DKI Jakarta, menaksir pamor SBY akan naik lagi. "Tidak mudah bagi Megawati mendongkrak popularitasnya lewat isu BBM ini," ujar Faisal.
Hingga kini, perlawanan terhadap SBY-JK marak di mana-mana, tak terkecuali di Jambi. Kemarin, seratusan aktivis berunjukrasa menyambut SBY dalam acara pencanangan Hari Keluarga Nasional V di Jambi. "Kami akan terus beraksi hingga SBY meninggalkan Jambi,” kata Arif Munandar, Direktur Eksekutif Walhi Jambi.
Terpisah, Wapres Jusuf Kalla di Jakarta menilai Megawati kalah dalam Pilpres 2004 karena tidak mau tampil berdebat. "Kenapa Megawati dahulu kalah dalam Pilpres? Karena dia tidak mau tampil dalam debat-debat. Diam saja, sehingga orang tidak tahu apa pikiran-pikirannya, apa hebatnya," kata Kalla.
Menurut dia, saat ini bukan zamannya lagi kampanye dengan pengerahan massa, tapi berdebat. Ia berargumen, kampanye paling banter dihadiri puluhan ribu orang, sedangkan debat terbuka lewat media massa akan dilihat jutaan orang. "Meskipun debat paling-paling hanya meningkatkan suara 10 persen," katanya.
Itu sebabnya, Kalla menyuruh kader partainya menyiapkan tokoh-tokoh lokal yang mampu berdebat guna hadapi Pemilu 2009. "Kita butuh tokoh-tokoh karismatik yang mampu mengeluarkan pikiran-pikirannya," kata Kalla. had/ant