| BANDAR LAMPUNG (Lampost): Meski menjadi isu global, penyelamatan sumber daya alam (SDA) masih sebatas slogan. Hingga kini, SDA di Indonesia masih menjadi objek eksploitasi penguasa dan pengusaha. Demikian benang merah seminar bertema Membaca situasi politik penyelamatan SDA, yang digelar Walhi Lampung dalam rangka rapat kerja nasional (Rakernas) Walhi se-Indonesia di Wira Garden, Batu Putu, Kamis (24-5). Dalam seminar yang dihadiri 26 perwakilan Walhi se-Indonesia, penggiat Walhi Institute Lampung, Wahyu Sasongko, mengatakan tren kebijakan politik di bidang SDA dan lingkungan hidup masih sebatas slogan. Meski sejumlah partai politik (parpol) kerap menggunakan isu penyelamatan SDA dan lingkungan hidup dalam berkampanye, tapi hingga kini penyelamatan SDA dan lingkungan hidup belum menunjukan perbaikan yang signifikan. "Saya melihat belum ada perubahan yang signifikan dari kinerja parpol dan pejabat politik dalam upaya penyelamatan SDA dan lingkungan hidup. Yang ada, kinerja mereka malah terjun bebas. Contohnya, kasus suap yang melibatkan anggoat DPR Al Amin Nasution. Dari situ, jelas terlihat betapa pejabat politik kita masih menjadikan SDA dan lingkungan hidup sebagai objek mencari uang," kata Wahyu, yang juga dosen Fakultas Hukum Unila. Direktur Eksekutif Walhi Lampung Mukri Friatna membenarkan hal tersebut. Menurut dia, belum ada satu pun pejabat politik dan pemerintah yang menunjukan kepeduliannya terhadap kerusakan lingkungan. Kalau pun ada, kata Mukri, itu hanya sebatas slogan untuk menarik perhatian masyarakat. "SDA masih dijadikan objek eksploitasi. Dan sampai kini, belum ada satu pun parpol yang membuktikan bahwa mereka peduli dengan upaya penyelamatan lingkungan dan SDA. Yang ada, mereka memanfaatkan isu lingkungan ini untuk berkampanye," kata Mukri. n ITA/K-1 |