Sabtu, 28 Februari 2009
Siapa sangka, sisa atau limbah pengolahan minyak kelapa sawit masih bisa diolah menjadi energi listrik. PT Bakrie Sumatera Plantation (BSP) yang berlokasi di Aiabalam, Kecamatan Parit Koto Balingka, Kabupaten Pasaman Barat, melakukan inovasi dan terobosan tersebut. Terobosan pengolahan limbah ramah lingkungan itu dikenal dengan istilah clean development mecanism (CDM). Selain menjaga kelestarian lingkungan, pengolahan limbah minyak sawit menjadi energi listrik juga bernilai ekonomis (added value).
Proses pengolahannya pun cukup mudah. Hasil limbah kelapa sawit diolah kembali sehingga menghasilkan gas metan. Gas metan itulah yang diproses menjadi energi listrik. Hasilnya, energi listrik hasil olahan limbah tersebut mampu menyuplai energi listrik perusahaan untuk operasional sehari-hari. Tak hanya menyuplai energi listrik bagi perusahaan, tapi juga disalurkan untuk penduduk sekitar pabrik. Komisaris PT BSP, Soedjai Kartasasmita didampingi Manager Operational, Howard JS dan Bussines Head BSP Sumbar, Edy Sukamto mengatakan, program ini bagian implementasi komitmen perusahaan mencegah terjadinya pencemaran lingkungan. Bekerja sama dengan PT AES AgrieVerde, PT BSP berusaha menekan dampak yang ditimbulkan dari sisa pengolahan limbah kelapa sawit terhadap lingkungan.
“Kami tidak menginginkan limbah pabrik ini mengganggu keseimbangan ekosistem lingkungan. Karena itu, kami berpikir bagaimana limbah ini bisa bermanfaat dan tidak merugikan lingkungan,” ujar Manager Operational, Howard JS. Masalah pencemaran yang dihasilkan dari limbah pabrik minyak kelapa sawit bukanlah sesuatu yang tidak bisa diatasi. Tapi, di sini dituntut bagaimana keseriusan para pelaku bisnis atau perusahaan mengatasi pencemaran menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi lingkungan. “Kami akan terus membuat program-program yang berorientasi penyelamatan lingkungan dari pengolahan limbah,” ungkapnya.
Bupati Pasbar, Syahiran usai peresmian proyek CDM, kemarin, memuji keseriusan PT BSP menjaga kelestarian lingkungan dengan mengolah limbah pabrik menjadi energi listrik. Ia berharap hal ini dapat dicontoh perusahaan-perusahaan lain di Pasbar, senantiasa berbasis lingkungan. “Sekarang PT BSP mengolahnya menjadi energi listrik, mungkin perusahaan lain bisa menghasilkan sesuatu yang berbeda. Seperti mengolahnya menjadi bahan bakar dan lain sebagainya. Tentu inovasi-inovasi seperti inilah yang kita harapkan,” ujar Syahiran.
Pengolahan hasil limbah bernilai ekonomis, berarti perusahaan turut berperan mengantisipasi pemanasan global. Bukan sebaliknya, justru mencemari bumi Pasbar dengan membuang limbah. “Maka dari itu saya mengimbau kepada perusahaan yang berinvestasi di Pasbar, agar tidak membuang limbahnya ke sungai dan sebaliknya mengolahnya menjadi sesuatu yang bermanfaat,” pungkasnya. (***)